welcome to my blog

Senin, 30 Mei 2011

Kriya Nusantara

Ketika Senjata para Dewa ''Disulap'' Jadi Benda Seni 
Sejatinya, ajaran agama Hindu beserta simbol-simbol suci yang terkandung di dalamnya adalah "sumber tambang" mahaluas yang tak pernah tuntas untuk digali oleh seniman-seniman Bali. Dia adalah sumber inspirasi yang senantiasa menggerakkan tangan-tangan kreatif seorang seniman guna melahirkan karya-karya estetis penuh pukau. Senjata nawa sanga (senjata sembilan dewata - red) yang mengandung makna simbolik tameng bhuwana yang membentengi jagat raya di segenap penjuru mata angin (makrokosmos) pun tak luput dari ''jamahan''. Mengapa simbol-simbol suci tersebut disulap jadi benda seni? Adakah nilai jual yang terkandung di dalamnya?

======================================================= 
Secara visual, bentuk-bentuk senjata para dewa itu memang sangat unik dan variatif serta sarat kandungan nilai estetis yang tinggi. Keunikan dan keartistikan dari bentuk senjata nawa sanga itu jelas sangat layak divisualisasikan ke dalam sebuah karya seni. Tentu saja dengan berbagai pengolahan sehingga menghasilkan karya seni yang original sebagai cerminan identitas pribadi seniman.
Keunikan dan keartistikan bentuk senjata nawa sanga itu pula yang dieksplorasi oleh seniman akademis Drs. I Wayan Suardana, M.Sn. ke dalam "produk" seni kriya mutakhirnya. Di tangan dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Denpasar ini, senjata-senjata para dewata seperti Cakra (senjata Dewa Wisnu), Trisula (Shambu), Bajra (Iswara), Dupa (Maheswara), Gada (Brahma), Moksala (Rudra), Nagapasa (Mahadewa), Angkus (Sangkara) dan Padma (Siwa) menjelma jadi karya seni kriya nan artistik. Senjata nawa sanga itu diekspresikan dalam bentuk tiga dimensional dengan media kayu jati. Beberapa bentuk senjata nawa sanga diolah dan dikembangkan serta dikomposisikan menjadi suatu adegan yang dilandasi oleh bentuk binatang yang merupakan kendaraan dari dewa-dewa yang menguasai penjuru dunia.
Tubuh-tubuh binatang yang ditampilkan itu diangkat dari material lesung antik yang di balik dengan kandungan makna bahwa masyarakat telah melupakan sumber kehidupan awalnya dan mulai beralih pada sesuatu yang baru. "Lesung adalah yoni. Yoni adalah meme atau ibu. Ibu pertiwi adalah sumber kehidupan. Tanpa ada ibu pertiwi, niscaya tidak ada kehidupan berlangsung di dunia ini. Oleh sebab itu, ibu pertiwi harus dilindungi dan di-tamengi (dibentengi-red) sehingga kehidupan akan berjalan pada kodratnya," kata Suardana ketika memaparkan konsep karya seni kriya ciptaannya yang menjadi salah satu pemenang "Beasiswa Unggulan Peneliti, Pencipta, Penulis, Seniman, Wartawan, Olahragawan dan Tokoh" dari Biro Perencana dan Kerja Sama Luar Negeri Departemen Pendidikan Nasional kepada Bali Post, Jumat (17/1) kemarin. 
''Tameng Bhuwana'' 
Suardana menegaskan, sudah jadi tugas seorang seniman mengembangkan kreativitasnya dengan mencipta berbagai bentuk karya seni sesuai dengan bidangnya. Sebagai pertanggungjawaban visual, mencipta adalah eksistensi seorang seniman yang kreatif. Karya seni yang original menjadi tuntutan utama proses penciptaan sebagai cerminan identitas idividu. Dikatakan, konsep dan sumber ide yang melatarbelakangi proses penciptaan terkadang ada kesamaan antara seniman satu dengan lainnya. Namun, pengolahan estetis dengan teknik dan gaya yang berbeda akan melahirkan karya seni yang original. "Tanggung jawab moral seorang seniman adalah menciptakan karya seni yang original dan bukan karya seni yang imitatif," tegasnya sambil menambahkan, karya seni original adalah karya seni dengan proses kreatif yang melibatkan perenungan secara mendalam serta menghindari peniruan.   
Dalam penciptaan karya seni kriya mutakhirnya, Suardana mengaku tidak meniru karya yang telah ada. Tetapi, menciptakan sebuah karya seni kriya dengan sumber ide dari senjata nawa sanga dengan mengadakan berbagai pengolahan, baik bentuk, teknik dan gaya sehingga menjadi sebuah karya yang mencerminkan identitas individu. Tameng bhuwana berupa senjata nawa sanga itu diolah menjadi karya seni kriya dalam bentuk tiga dimensional dengan mengkombinasikan antara teknik pahatan, bubutan dan teknik lainnya tentunya dengan tampilan yang artistik dan menarik. "Sejak lama saya sudah terobsesi untuk mengabadikan keindahan bentuk senjata-senjata para dewa itu ke dalam karya-karya seni kriya saya," katanya.
Suardana menambahkan, setiap aktivitas upacara keagamaan maupun adat di Bali merupakan suatu momen estetis yang luar biasa indah. Secara tidak langsung, momen estetis itu akan memberi rangsangan kepada seniman untuk menerjemahkannya menjadi sebuah karya seni yang artistik. Momen estestis itu terpancar baik dari prosesi upacaranya maupun sarana peralatan yang digunakan seperti halnya senjata nawa sanga yang merupakan bagian dari pengider bhuana. Secara konseptual, pengider bhuana merupakan dasar dari segala aktivitas upacara dan secara visual senjata nawa sanga selalu dimunculkan sebagai sarana upacara tersebut. "Aneka bentuk senjata nawa sanga selalu muncul baik dalam bentuk gambar pada tempat banten, tempat tirta, pada kober, umbul-umbul, kelapa muda dan juga divisualkan dalam bentuk sate maupun jajan. Di samping itu, senjata nawa sanga juga banyak dibuat dalam bentuk bebandrangan atau pengawin yang terbuat dari cetakan logam yang dilapisi dengan warna emas. Senjata nawa sanga dalam bentuk gambar pada sarana upacara sudah menjadi kewajiban bagi penggarap untuk menggambarnya apabila penggarap terjun ke masyarakat, ngayah dalam mempersiapkan sarana upacara. "Dengan seringnya bergulat dengan media tersebut, tanpa disadari saya menjadi sangat tertarik untuk mengabadikannya menjadi sebuah karya seni kriya dan mengangkat tameng bhuwana sebagai tema dengan metafora senjata nawa sanga sebagai objek visual," katanya sambil menambahkan, dalam karya seni kriya ini bentuk-bentuk senjata dideformasi yaitu dikembangkan dengan perubahan bentuk yang sangat kuat dari bentuk semula sehingga memunculkan karakter baru.
Suardana mengingatkan proses penciptaan yang dilakukannya dengan berbagai eksplorasi itu hanyalah sebatas sumber ide yang pengacuannya lebih banyak mengarah kepada bentuk. Nilai filosofis yang terkandung pada sumber ide itu hanya sebatas bayangan dasar nilai yang dikandung di dalamnya. "Dengan demikian, proses perwujudan karya seni dengan senjata nawa sanga sebagai objek visual ini penekanannya lebih kepada pertimbangan estetis sehingga kreativitas penggarap tidak terbelenggu oleh konsep yang sangat ketat," ujarnya. 
Sumber Ide 
Secara umum, katanya, karya-karya seni kriya yang diciptakannya lebih memunculkan penyederhanaan bentuk dari apa yang seharusnya diciptakan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai bentuk yang ada, baik senjata, binatang, sesajen dan sebagainya. Bentuk-bentuk senjata, binatang, dan sesajen yang ada sangat bebas dan tidak terikat oleh pekem-pakem yang ada. Namun, identitasnya masih sangat kuat. "Konsep minimalis ini sengaja dimunculkan untuk memberikan ruang ekspresi yang lebih leluasa sehingga karya ini layak dikategorikan sebagai karya murni," tegasnya.
Suardana tidak menampik, mengabadikan simbol-simbol suci keagamaan seperti senjata nawa sanga ke dalam karya seni merupakan hal yang cukup sensitif. Oleh karena itu, para kreator seni yang tertarik menggarap tema-tema seperti ini sangat dituntut kehati-hatiannya. Jangan sampai karya-karya yang secara visual itu sejatinya sangat estetik justru menimbulkan ketersinggungan umat. Yang terpenting lagi, penikmat seni harus jeli dalam memajang karya-karya seni beraroma religius seperti itu. "Meskipun ide dasar penciptaan karya seni kriya ini murni ditekankan pada aspek estetik semata, tidak tertutup kemungkinan hal itu bisa terjadi. Bagi penikmat seni yang ingin mengoleksi karya-karya seperti ini, saya meminta lokasi pemajangannya dipertimbangkan dengan seksama. Jangan sampai dipajang di tempat-tempat yang tidak semestinya seperti toilet dan tempat-tempat tidak etis lainnya," katanya mengingatkan.
* w. sumatika

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share