welcome to my blog

Rabu, 23 Maret 2011

Analisa Interaksi Keruangan

1. Gerakan dalam Geografi
Penduduk memiliki ciri bergerak, hal ini tidaklah disebabkan karena ia dengan
kemauannya sendiri dapat pergi ke tempat lain secara sadar,
tetapi juga karena
ia mampu menggerakkan ( memindahkan) berbagai barang dan gagasan ke
alamat lain. Ia pun mampu menerima pemindahan barang dan gagasan
(informasi) yang diperlukannya.
Setiap hari jutaan manusia berpindah ( bergerak) diantaranya karena
pekerjaannya; setiap hari kantor pos mengirim surat dan barang serta berbagai
informasi. Juga terjadi pengiriman (transportasi) barang lewat angkutan darat,
laut, udara. Masih ada jenis pemindahan yang lain yaitu energi misalnya arus
listrik, serta pemindahan lewat pipa seperti gas, air, minyak bumi.
Selain bentuk arus perpindahan diatas, tersedia tiga bentuk utama yaitu: (a)
migrasi, jika menyangkut arus manusia, (b) komunikasi, jika menyangkut
gerakan/perpindahan gagasan dan informasi, (c) transportasi, jika menyangkut
materi dan energi

2. Interaksi Keruangan
a. Faktor terjadinya Interaksi Keruangan
1. Komplementaritas regional yaitu adanya region yang berbeda kemampuan
sumberdayanya, disuatu pihak surplus dan dilain pihak minus. Kondisi ini
memberikan kemungkinan terjadinya pengaliran yang besar dan meningkatkan
perpindahan arus. Kondisi ini memberikan kemungkinan terjadinya pengaliran
arus perpindahan yang besar. Komplementaritas antar dua kota atau kelompok
manusia berkaitan dengan permintaan dan penawaran.
2. Kesempatan berintervensi yaitu: adanya kemungkinan perntara yang dapat
menghambat terjadinya perpindahan barang atau manusia.
3. Kemudahan trasfer dalam ruang ( spatial transferability ) adalah fungsi jarak
yang diukur dalam biaya dan waktu yang nyata. Komoditi tertentu yang
dibutuhkan sesuatu daerah dari daerah lain yang tertentu pula, memiliki daya
transfer yang tinggi, jarak yang ditempuh, biaya angkut yang memadai, dan
trasportasi yang lancar merupakan kemudahan transfer dalam ruang yang
menjamin lancarnya interaksi.

b. Pengertian Interaksi Keruangan
Ilmu Geografi yang mencakup arus manusia, materi, informasi, dan energi
dicakup dalam pengertian interaksi keruangan, yang tercakup pula saling







keterlibatan antara gejala- gejala yang ada saling berpengaruh, dapat dilihat
pada gambar di bawah ini:





Gbr. 2.1. Interaksi



= unsur- unsur ( wilayah)
= keseluruhan arus informasi dan transportasi
=arus manusia, materi, energi dan informasi dalam waktu tertentu ( tebal tipisnya garis- garis
menunjukkan bahwa arus-arus tersebut dalam perjalanan waktu berubah.

Pada gambar nampak terlihat arus, kerjasama dan saling pengaruh :
Gambar a. menyajikan kesalingterlibatan yang terdapat antara dua gejala melalui sifat-sifatnya,keduanya berfungsi komplementaris, yaitu saling melengkapi.
Gambar b.terjadinya arus yang berupa migrasi, komunikasi dan transportasi
Gambar c sambil mengarungi waktu, dapat karena adanya arus migrasi,
komunikasi, transportasi (manifestasi keruangan dari interaksi melalui pengaruh
terjadi perubahan dalam hal lokasi dan sifat- sifat gejal- gejala yang saling
terlibat dan juga dalam arus itu sendiri.
Berdasarkan gambar diatas, dapat dijelasakan bahwa interaksi keruangan
merupakan suatu permulaan dari usaha menerangkan lokasi dari gejala- gejala,
distribusinya ( pembagian, sebaran dalam ruang) dan difusinya ( persebaran, perluasan).
Interaksi keruangan menurut Daldjoeni (1991;197) merupakan suatu
pengertian yang dalam geografi sosial dipakai untuk mendapatkan gambaran
yang jelas mengenai pengaruh keruangan dari relasi yang ada antara manusia
dengan manusia serta antara manusia dengan lingkungaanya yang dinyatakan pada
arus manusia, materi, informasi, energi, sehingga menjadikan dasar untuk
menerangkan gejala- gejala lokasi, relokasi, distribusi, difusi.

PELAJARAN DARI GEMPA DAN TSUNAMI JEPANG




Pakar UGM menceritakan, sinyal gempa sudah diterima 32 detik sebelum goncangan di Sendai


Gempa bumi berkekuatan 8,9 skala Richter disertai tsunami telah mengguncang Jepang pada 11 Maret 2011. Pusat gempa tepat berada 130 kilometer (km) di lepas pantai timur kota Sendai atau 400 km di timur laut kota Tokyo pada kedalaman 24,4 km.

Gempa bumi ini menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat setinggi 10 meter di sekitar kota Sendai.



"Kami prihatin dengan peristiwa ini. Namun, dari peristiwa ini kami bisa belajar banyak bagaimana pemerintah Jepang beserta rakyatnya menangani fase responsif di dalam manajemen bencana gempa bumi," ujar pakar geologi Universitas Gadjah Mada, Dr Subagyo Pramumijoyo.

Bersumber informasi dari Japan Meteorological Agency di Jakarta belum lama ini, Subagyo mengatakan, gelombang Primer yang datang pertama di rekaman seismometer sesungguhnya dapat dipergunakan sebagai peringatan dini, meskipun hanya beberapa detik sebelum tempat seismometer tersebut diguncang gempa bumi. Gelombang tersebut kemudian rusak saat gempa bumi akibat gelombang Sekunder yang datang belakangan setelah gelombang Primer.

Pengajar di Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM ini menjelaskan, dari jarak 130 km dari pusat gempa bumi, kota Sendai akan menerima sinyal gelombang Primer yang berkecepatan kurang lebih 6 km/detik setelah 21,6 detik, dan gelombang Sekunder yang berkecepatan 4 km/detik yang merusak akan tiba di Sendai setelah 32,5 detik.

Jadi, sesungguhnya masih ada selisih 10,9 detik untuk mengingatkan masyarakat bahwa akan datang gempa bumi dahsyat. Sementara itu, di Tokyo yang berjarak 400 km dari pusat gempa masih memiliki selisih kedatangan gelombang Primer dan Sekunder selama 33,4 detik.

"Dengan demikian, penduduk Sendai sebenarnya masih punya beberapa menit untuk menghindar dari gelombang tsunami yang akan datang menyapu kawasan pantai," katanya.

Namun tak ayal, di kota Sendai sekitar 20 ribu rumah rusak dan diperkirakan 20 ribuan jiwa yang meninggal.


Pemerintah Jepang lalu menerjunkan 50 ribu pasukan beladiri (tentara) Jepang dan NHK langsung melakukan peliputan di wilayah yang diterjang tsunami dengan helikopter. "Sebab di Jepang, organisasi hierarkis terbaik adalah organisasi tentara," kata Subagyo Pramumijoyo yang dilansir laman UGM.

Dari berbagai informasi dan tayangan televisi, Subagyo berpendapat masyarakat Jepang telah memiliki kesadaran dan kesiapsiagaan bencana gempa. Mengingat negara dalam wilayah rawan gempa, mereka telah mendapatkan itu semua melalui sosialisasi bencana gempa bumi.

"Mereka akan mencari tempat berlindung terdekat, di kolong meja ataupun di mana mereka merasa aman. Masyarakat terkesan sudah sangat terlatih dengan bencana gempa," tuturnya.

Di samping itu, masyarakat Jepang dinilai memiliki budaya disiplin dan kejujuran yang tinggi. Hal itu tercermin saat mereka menghadapi bencana gempa.

"Saya rasa tanpa disiplin yang tinggi masyarakat tidak akan tenang menghadapi gempa bumi. Mereka tetap antre dengan tertib untuk memperoleh jatah bantuan paska gempa utama terjadi," kata dia. "Harga-harga di Tokyo masih stabil. Berbeda dengan pengalaman saat gempa bumi di Yogyakarta 2006, harga sekotak supermi pun bisa menjadi tiga kali lipat."

Demikian pula dengan penanganan reaktor nuklir di Fukushima, pemerintah Jepang langsung merespons dengan cepat menyatakan darurat nuklir.

Pemerintah pun dengan segera mengevakuasi 200.000 rakyatnya dari radius 20 km dari reaktor nuklir. "Kami tentu dapat belajar bagaimana membangun reaktor nuklir. Tidak saja membangun, namun bagaimana bisa membekali para pengelola nuklir dengan disiplin tinggi," katanya.

Meski masih dalam penanganan para ahli, tingkat radiasi saat ini telah mencapai 160 kali tingkat radiasi normal. Bahkan, empat hari setelah kerusakan reaktor nuklir Fukushima, masyarakat Tokyo yang berjarak 250-an km telah mendapat imbauan untuk tetap tinggal di dalam rumah karena dikhawatirkan akan terkena debu nuklir.

"Lagi-lagi, kami bisa belajar dari peristiwa ini. Kalaupun tetap pada keinginan membangun reaktor nuklir, tentu dapat memilih tempat yang paling aman dari bencana terutama gempa bumi. Dengan berbagai pertimbangan ekonomi, memang diharapkan bisa memiliki reaktor nuklir, tetapi perlu dipertimbangkan ke mana limbah akan dibuang," katanya.

Pengertian Lingkungan Hidup Menurut Para Ahli


Yang dimaksud dengan lingkungan adalah jumlah semua benda hidup dan mati serta seluruh kondisi yang ada di dalam lingkungan adalah jumlah semua benda hidup dan mati serta seluruh kondisi yang ada di dalam ruang yang kita tempati. Ahmad (1987:3) mengemukakan bahwa lingkungan hidup adalah sistem kehidupan di mana terdapat campur tangan manusia terhadap tatanan ekosistem.
St. Munajat Danusaputra : Lingkungan adalah semua benda dan kondisi termasuk di dalamnya manusia dan aktivitasnya, yang terdapat dalam ruang di mana manusia berada dan mempengaruhi kelangsungan hidup serta kesejahteraan manusia dan jasad hidup lainnya. (Darsono, 1995)
Emil Salim : Lingkungan hidup adalah segala benda, kondisi, keadaan dan pengaruh yang terdapat dalam ruangan yang kita tempati dan mempengaruhi hal yang hidup termasuk kehidupan manusia
Salah seorang ahli ilmu lingkungan, yaitu Otto Soemarwoto mengemukakan bahwa dalam bahasa Inggris istilah lingkungan adalah environment. Selanjutnya dikatakan, lingkungan atau lingkungan hidup merupakan segala sesuatu yang ada pada setiap makhluk hidup atau organisme dan berpengaruh pada kehidupannya. Contoh, pada hewan seperti kucing, segala sesuatu di sekeliling kucing dan berpengaruh pada keberlangsungan hidup kucing tersebut maka itulah lingkungan hidupnya. Demikian pula pada suatu jenis tumbuhan tertentu, misalnya pohon mangga atau padi di sawah, segala sesuatu yang mempengaruhi pertumbuhan atau kehidupan tanaman tersebut itulah ling kungan hidupnya.
Menurut Undang-Undang Rl Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, menyatakan bahwa lingkungan hidup merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.
Selanjutnya, bagaimana untuk lingkungan hidup manusia? Tentunya Anda telah dapat menyimpulkannya bukan? Pada intinya bergantung pada apa dan siapa yang menjadi sorotan dan kajiannya. Jika manusia menjadi sorotan atau kajiannya, lingkungan hidupnya adalah segala sesuatu mulai dari udara yang menyentuh hidungnya sampai kepada benda-benda angkasa yang jaraknya ratusan juta kilometer dari planet bumi ini, jika mempengaruhi kehidupan di muka bumi ini maka menjadi lingkungan hidup bagi manusia.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa lingkungan atau lingkungan hidup adalah segala sesuatu (benda, keadaan, situasi) yang ada di sekeliling makhluk hidup dan berpengaruh terhadap kehidupan (sifat, pertumbuhan, persebaran) makhluk hidup yang bersangkutan. Lingkungan hidup baik faktor biotik maupun abiotik berpengaruh dan dipengaruhi manusia. Segala yang ada pada lingkungan dapat di manfaatkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia karena lingkungan memiliki daya dukung. Daya dukung lingkungan adalah kemampuan lingkungan untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya di muka bumi.
Dalam kondisi alami, lingkungan dengan segala keragaman interaksi yang ada mampu menyeimbangkan keadaannya. Namun, tidak tertutup kemungkinan, kondisi demikian dapat berubah dengan adanya campur tangan manusia dengan segala aktivitas pemenuhan kebutuhan yang terkadang melampaui batas.
Keseimbangan lingkungan secara alami dapat berlangsung karena beberapa
hal, yaitu komponen-komponen yang terlibat dalam aksi-reaksi dan berperan sesuai kondisi keseimbangan, pemindahan energi (arus energi), dan siklus biogeokimia dapat berlangsung. Keseimbangan lingkungan dapat terganggu jika terjadi perubahan berupa pengurangan fungsi dari komponen atau hilangnya sebagian komponen yang dapat menyebabkan putusnya mata rantai dalam suatu ekosistem. Salah satu faktor penyebab gangguan adalah polusi, di samping faktor-faktor yang lainnya.
Jika Anda memerhatikan makhluk hidup dalam habitatnya atau pada lingkungan tempat hidupnya sangatlah menarik, karena terjadi suatu jalinan yang sangat unik. Karena keunikan jalinan yang terbentuk maka mengundang perhatian manusia untuk menelaah lebih jauh lagi tentang lingkungan hidupnya. Hal tersebut mendorong lahirnya suatu disiplin ilmu yang secara khusus mengkaji mengenai seluk beluk antara hubungan makhluk hidup dengan lingkungannya disebut ekologi.

Ekologi Sebagai Ilmu yang Mempelajari Lingkungan Hidup
Ilmu yang mempelajari tentang lingkungan hidup adalah Ekologi. Istilah ekologi untuk pertama kali diperkenalkan oleh Ernest Haeckel, seorang ahli biologi berkebangsaan Jerman. Istilah ekologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikos yang artinya rumah tangga atau habitat dan logos yang artinya telaah atau ilmu.

1. Pengertian Ekologi
a. Miller, 1975 : Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara organisme dan sesamanya serta dengan lingkungan tempat tinggalnya. (Darsono, 1995)
b. Otto Soemarwoto : Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. (Darsono, 1995)

2. Ilmu Pendukung Ekologi
a. Environmentaly (ilmu-ilmu lingkungan) : klimatologi, hidrologi, oseanografi, fisika, kimia, geologi, dan analisis tanah.
b. Ilmu-ilmu fisik : perilaku hewan, taksonomi, psikologi, dan matematika.

3. Aspek Utama Ekologi
a. Studi tentang hubungan organisme atau grup organisme dengan lingkungannya.
b. Studi tentang hubungan antara organisme atau grup organisme terhadap lingkungannya.
c. Studi tentang struktur dan fungsi alam.

4. Prinsip-Prinsip Utama Ekologi
a. Interaksi (interaction)
b. Saling ketergantungan (interdependence)
c. Keanekaragaman (diversity)
d. Keharmonisan (harmony)
e. Kemampuan berkelanjutan (sustainability).

Jenis-jenis Lingkungan Hidup
1. Lingkungan Hidup Alami
Lingkungan hidup alami merupakan lingkungan bentukan alam yang terdiri atas berbagai sumber alam dan ekosistem dengan komponen-komponennya, baik fisik, biologis. Lingkungan hidup alami bersifat dinamis karena memiliki tingkat heterogenitas organisme yang sangat tinggi.
2. Lingkungan Hidup Binaan/Buatan
Lingkungan hidup binaan/buatan mencakup lingkungan buatan manusia yang dibangun dengan bantuan atau masukan teknologi, baik teknologi sederhana maupun teknologi modern. Lingkungan hidup binaan/buatan bersifat kurang beraneka ragam karena keberadaannya selalu diselaraskan dengan kebutuhan manusia.
3. Lingkungan Hidup Sosial
Lingkungan hidup sosial terbentuk karena adanya interaksi sosial dalam masyarakat. Lingkungan hidup sosial ini dapat membentuk lingkungan hidup binaan tertentu yang bercirikan perilaku manusia sebagai makhluk sosial. Hubungan antara individu dan masyarakat sangat erat dan saling mempengaruhi serta saling bergantung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share