welcome to my blog

Rabu, 23 Maret 2011

RUANG LINGKUP GEOGRAFI

1. Geografi Ekonomi

Dalam seminar dan loka karya yang diadakan tahun 1988 / 1989 di Semarang,
para ahli geografi Indonesia sepakat untuk menguraikan definisi geografi sebagai
ilmu yang mempelajari persamaan
dan perbedaan fenomena geosfer dengan
sudut pandang kelingkungan atau kewilayahan dalam konteks keruangan ( IKIP
Semarang, 1989: 4). Definisi ini mengisyaratkan bahwa geografi memusatkan
perhatiannya pada gejala / fenomena di muka bumi baik pada litoster, hidrosfer,
atmosfer maupun biosfer dalam sudut pandang kelingkungan atau kewilayahan,
tetapi senantiasa dalam keterkaitan keruangan.
Seminar tersebut juga menyepakati sepuluh (10) konsep esensial geografi
sebagai cirri ilmu dan pengajaran geografi. Kesepuluh konsep sesensial geografi
tersebut adalah (a) konsep lokasi, (b) konsep jarak, (c) konsep keterjangkauan,
(d) konsep pola, (e) konsep morfologi, (f) konsep nilai kegunaan, (g) konsep
anglomerasi, (h) konsep interaksi dan interpendensi, (i) konsep diferensiasi areal
(struktur keruangan/distribusi keruangan, (j) konsep keterkaitan keruangan
(proses keruangan).
Menurut Bintarto (1984) Geografi mempelajari hubungan kausal gejala-gejala
muka bumi, baik fisik maupun makhluk hidup beserta permasalahannya melalui
pendekatan keruangan, ekologi, dan regional untuk kepentingan program,
proses dan keberhasilan pembangunan. Batasan Geografi ini mengandung arti
bahwa studi geografi merupakan pengkajian keilmuan, gejala dan masalah
geografi. Geografi dibedakan menjadi dua yaitu geografi fisik dan geografi
manusia. Geografi fisik menurut Nursid yaitu cabang geografi yang mempelajari
gejala fisik dari permukaan bumi. Sedang geografi manusia yaitu cabang
geografi yang bidang studinya aspek keruangan gejala di permukaan bumi
dengan mengambil manusia sebagai obyek pokoknya. (Sumaatmaja,1988:52-53 ).
Nursid (1988:54 ) mendefinisikan geografi ekonomi sebagai cabang geografi
manusia yang bidang studinya struktur aktivitas keruangan ekonomi sehingga
titik berat studinya adalah aspek keruangan struktur ekonomi manusia yang di
dalamnya bidang pertanian, industri-perdagangan-komunikasi-transportasi dan
lain sebagainya. Sedangkan H. Robinson (1979) mengartikan geografi ekonomi
sebagai ilmu yang membahas mengenai cara-cara manusia dalam kelangsungan hidupnya berkaitan dengan aspek keruangan, dalam hal ini berhubungan dengan eksplorasi sumber daya alam dari bumi oleh manusia, produksi dari komoditi (bahan mentah, bahan pangan, barang pabrik) kemudian
usaha transportasi, distribusi, konsumsi (Suharyono, 1994 : 34).
Penelitian di perusahaan syrup ini merupakan tinjauan dari segi geografi
khususnya geografi ekonomi. Geografi ekonomi merupakan cabang dari geografi
manusia di mana bidang studinya adalah struktur keruangan aktivitas ekonomi
(Miller,1984) . Geografi sebagai studi variasi keruangan di permukaan bumi di
mana manusia melakukan aktivitas yang berhubungan dengan produksi,pertukaran dan pemakaian sumber daya demi (Alexander,1963)kesejahteraannya.

Dengan demikian perbincangan pokok Geografi Ekonomi adalah aspek
keruangan struktur ekonomi manusia antara lain termasuk di dalamnya bidang
pertanian dalam arti luas seperti pertambangan, industri, perdagangan,
pelayanan, transportasi dan komunikasi. Sejalan dengan itu Miller dan Renner
(1957) mengemukakan geografi ekonomi adalah studi tentang aktivitas-aktivitas
ekonomi dan hubungannya dengan lingkungan fisikal

2. Industri
Industri dalam arti luas adalah seluruh kegiatan manusia yang produktif, jadi di
sini industri meliputi juga industri pertanian, industri peternakan, pertambangan,
dsb. Sedangkan dalam arti sempit industri dapat diartikan dengan bagian dari
proses produksi yang mengolah bahan mentah menjadi barang jadi.
Faktor yang menunjang dalam perindustrian di Indonesia.
a. Jumlah penduduk Indonesia sangat banyak (sebagai tenaga kerja dan pemasaran/konsumen)
b. Suasana industri yang baik
c. Jaringan komunikasi dan transportasi yang mantap.
d. Terjaminnya persediaan bahan mentah (hasil pertanian, hasil hutan, hasil laut,hasil tambang).
e. Tersedianya tenaga energi
f. Pasar dan sarana pasar yang baik
g. Perangkat pengelola yang baik.
h. Ketenteraman politik dan sosial.
i. Posisi silang Indonesia yang strategis (memperlancar pemasaran ke negara tetangga)

Syarat-syarat berdirinya suatu industri yaitu:
a. Tersedianya bahan mentah
b. Tersedianya modal
c. Tersedianya sumber tenaga seperti tenaga dari minyak bumi,batu bara, air,dan sebagainya.
d. Adanya tenaga buruh (termasuk tenaga ahli)
e. Tempat pemasaran bagi hasil industri
f. Tersedianya sarana dan prasarana transportasi
g. Lokasi yang baik ( Sandy, 1985 : 158 ).

Industri di Indonesia dapat digolong-golongkan dalam beberapa macam
kelompok. Untuk mengetahui apakah suatu industri itu masuk dalam kriteria
tertentu, para ahli menggunakan kriteria yang berbeda-beda. Berdasarkan
jumlah tenaga kerja yang digunakan dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat),
yaitu:
a. Industri rumah tangga, jumlah tenaga kerja antara 1-4 orang
b. Industri kecil, jumlah tenaga kerja antara 5-19 orang
c. Industri menengah, jumlah tenaga kerja antara 20-99 orang
d. Industri besar, jumlah tenaga kerja lebih dari 99 orang ( BPS,1999:3 ).

Berdasarkan penyelenggaraannya,industri dapat dikelompokkan menjadi dua
kelompok, yaitu:
a. Industri besar, mempunyai ciri-ciri:
1) Modal yang digunakan besar, bisa berasal dari pemerintah, swasta nasional,
patungan ataupun modal asing.
2) Menggunakan mesin-mesin modern dalam produksinya
3) Tenaga kerja yang digunakan merupakan tenaga kerja terdidik, yang
termasuk didalam industri besar adalah industri syrup, industri tekstil, industri
kertas, industri pengolahan kayu, industri otomotif, dan lainlain.

b. Industri rakyat/industri kecil yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1) Produksinya banyak menggunakan tenaga
2) Menggunakan alat-alat dan teknik sederhana
3) Tempat produksi dilakukan di rumah
4) Upah pekerjanya rendah

Yang termasuk di dalam industri rakyat/kecil ini adalah industri tenun, industri
batik, industri anyaman, industri kerajinan kulit dan lain-lain. Perusahaan syrup
sebagai salah satu bentuk aktivitas ekonomi luar pertanian penduduk pedesaan,
merupakan perwujudan dari hubungan dinamis manusia dengan lingkungan di
mana ia tinggal (Bintarto, 1984). Kegiatan industri syrup tidak timbul dengan
sendirinya melainkan manusia yang mengembangkan melalui suatu proses
untuk mengatasi masalah tenaga kerja dan untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya sehari-hari. Tujuan utama dari kebijaksanaan tenaga kerja secara
rasional adalah untuk meningkatkan kesejahteraan anggota masyarakat.

Dengan anggapan bahwa bekerja dapat menghasilkan sejumlah pendapatan,maka perluasan kesempatan kerja dapat meningkatkan pendapatan khususnya bagi rumah tangga berpenghasilan rendah (Rozani Nur Manaf,1981).
Geografi ekonomi dalam kajiannya mempelajari fakta-fakta, mencari sebab
akibat, menelusuri kecenderungan dan pola dari kegiatan ekonomis manusia
serta menjelaskan aneka pengaruh yang mewarnai produksi. Industri merupakan
kegiatan pengolahan bahan mentah menjadi barang setengah jadi, atau
pengolahan barang setengah jadi menjadi barang jadi yang lebih bermanfaat.

3. Volume Penjualan
Setiap perusahaan menghendaki adanya peningkatan kuantitas penjualan
menurut Sutamto (1986: 9) penjualan merupakan usaha yang dilakukan manusia
untuk menyampaikan barang kebutuhan yang telah dihasilkan kepada mereka
yang memerlukan dengan imbalan uang menurut harga yang ditentukan atas
persetujuan bersama. Jadi volume penjualan merupakan besarnya penjualan
yang dipakai dalam periode tertentu yang dapat dinyatakan dalam unit barang.
Volume penjualan / hasil penjualan merupakan banyaknya jumlah barang atau
produk yang berhasil dijual dalam periode waktu tertentu. Dengan mengetahui
tingkat penjualan diharapkan perusahaan mampu menganalisis dan meramalkan
keuntungan dan tingkat penjualan pada tahuntahun yang akan datang.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Volume Penjualan Industri
Sebagain besar volume industri dipengaruhi oleh berbagai perubahan yang
berlaku di bidang perindustrian, yang kaitannya dengan faktor keterjangkauan
antara lokasi industri, bahan baku, tenaga kerja dan pemasaran.

a. Lokasi Industri
Lokasi merupakan tempat di mana industri melakukan kegiatan kerja yang dalam
penentuannya tidak terlepas dari proses produksi maupun lokasi pasar yang
dilayani perusahaan tersebut. Faktor yang menentukan lokasi industri antara
lain:
1) Bahan mentah
2) Tenaga kerja
3) Pasar
4) Sumber-sumber teknis dan produktif (air, listrik, dan lain-lain)
5) Alat pengangkutan
6) Inducement setempat ( birokrasi ).
7) Sifat-sifat khusus perusahaan (hasil produksi) (Sigit,1982:29).

Dalam studi Geografi yang studinya memperhatikan relasi lingkungan, tidak bisa
lepas dari konsep lokasi. Lokasi merupakan konsep utama yang menjadi ciri
khusus dari pengetahuan geografi. Lokasi dapat dibedakan antara lokasi absolut
dan lokasi relatif. Lokasi absolut suatu wilayah atau tempat yaitu lokasi yang
berkenaan dengan posisi menurut garis lintang dan garis bujur. Sementara lokasi
relatif suatu wilayah atau tempat oleh Nursid merupakan lokasi tempat atau
wilayah yang bersangkutan berkenaan dengan berhubungan tempat / wilayah itu dengan faktor alam atau faktor budaya yang ada di sekitarnya(Sumaatmaja,1988:118-119).
Industri merupakan kegiatan pengolahan bahan mentah menjadi barang
setengah jadi, atau pengolahan barang setengah jadi menjadi barang jadi
ataupun mengubah bahan mentah menjadi barang jadi yang lebih bermanfaat.
Pemilihan lokasi industri ditetapkan berdasarkan bermacam-macam orientasi.
Keputusan lokasi yang bersangkutan, ada yang berorientasi kepada energi,
tenaga kerja, pasar, bahan baku, dan ada pula yang berorientasi pada kemajuan
teknologi. Dasar orientasi keputusan tersebut terutama ditekan kepada biaya
transportasi yang terendah (Sumaatmaja,1988:129).
Dalam menentukan lokasi suatu industri untuk memperoleh perkembangan
memerlukan perencanaan yang baik, karena berkaitan dengan produk yang
dihasilkan.

Menurut Weber, tiga faktor utama penentu lokasi adalah material dan konsumsi,
kemudian tenaga kerja. Semua itu ditimbang dengan biaya transportasi, dengan
menggunakan beberapa asumsi demikian: (a) hanya tersedia satu jenis alat
transportasi, (b) tempat berproduksi ( lokasi pabrik ) hanya pada satu tempat, (c)
jika ada beberapa bahan mentah, asalnya itu dari beberapa tempat.
Dengan menggunakan tiga asumsi diatas, maka biaya transport akan tergantung
dari dua hal: bobot barang dan jarak pengangkutan. Jika yang menjadi dasar
penentuan itu bukan bobot, melainkan volume, maka yang menentukan biaya
pengangkutan adalah volume barang dan jarak pengangkutan (Daldjoeni, 1992, 64).
Penerapan teori Weber di Indonesia menggunakan cara-cara sebagai berikut:
1) Pemilihan wilayah secara umum, berdasarkan faktor dasar meliputi dekat
dengan pasar, dekat dengan bahan baku, tersedia fasilitas umum, serta kondisi
iklim dan lingkungan .
2) Memilih industri pada masyarakat tertentu dengan didasarkan pada
tersedianya tenaga kerja yang cakap dalam jumlah dan sesuai skill yang
dibutuhkan, tingkat upah yang murah, adanya kerja sama yang baik antara
perusahaan yang ada, peraturan daerah yang menunjang dan kondisi kehidupan
masyarakat yang mendukung.
3) Memilih lokasi tetentu menyangkut luas tanah yang diperlukan untuk kegiatan
industri, topografi daerah untuk kesesuaian bangunan dan kemudahan dalam
transportasi barang- barang kebutuhan industri (Dekdikbud, 1989:84-85).

Untuk menentukan efektifitas lokasi dapat digunakan pula teori lokasi Von Thunen. Teori ini mempertimbangkan antara biaya produksi, biaya pengangkutan dan hasil penjualan, dan dirumuskan:

K = N – (P+A)

Keterangan:
N = hasil produksi
P = biaya produksi
A = biaya pengangkutan
K = keuntungan

Apabila nilai K cenderung positif maka dapat disimpulkan bahwa lokasi tersebut
efektif untuk usaha (Marsudi Djojodipuro, 1992: 150). Dalam kajian penelitian ini
digunakan teori Von Thunen untuk mengetahui perananan lokasi terhadap
volume penjualan.

b. Bahan Mentah/Bahan Baku
Bahan baku merupakan bahan dasar yang penting dalam usaha perindustrian
bahan baku merupakan faktor yang penting dalam proses produksi.Tersedianya
bahan baku dalam jumlah yang cukup berkesinambungan dan harga yang relatif
murah akan memperlancar produksi yang pada gilirannya akan meningkatkan jumlah produksi.
Industri berkepentingan dengan tersedianya bahan baku / bahan mentah
ataupun barang setengah jadi, dengan ketentuan mudah didapat, tersedianya
sumber yang dapat menunjang usahanya untuk jangka panjang, harganya layak,
sesuai dengan kualitas yang diharapkan artinya bila diolah hasilnya baik, dengan
biaya pengakutan murah atau layak (Kertasapoetra, 1987 : 73).

Bahan baku sebagai bahan antara dalam kegiatan produksi perlu mempertimbangkan hal-hal yang menyangkut :
1) Jumlah kebutuhan bahan baku selama satu periode
2) Kelayakan harga barang
3) Kontinuitas persediaan barang
4) Kualitas bahan baku
5) Biaya pengangkutan (Ahyari,1979:10).

Pertimbangan bahan baku seperti mudah rusaknya bahan baku, ukuran berat,
dan volume secara langsung berpengaruh terhadap ongkos transportasi dan
proses produksinya. Usaha produksinya yang menggunakan bahan baku yang
mudah rusak seperti ikan dan susu akan lebih menguntungkan apabila memilih
lokasi dekat dengan bahan baku dari pada usaha produksi yang menggunakan
bahan baku tahan lama seperti pembuatan tempe. Untuk usaha produksi tempe,
mengingat sifat tempe yang cepat rusak, maka lebih tepat bila memilih lokasi
dekat dengan pasar, meskipun biaya transportasi tinggi. Begitu pula halnya
dengan industri Syrup PT.Kartika Polaswasti Mahardhika yang dalam
produksinya dibutuhkan bahan-bahan yang mempunyai sifat tidak tahan lama,
karena dikhawatirkan akan cepat busuk, maka lebih tepat memilih lokasi dekat
dengan bahan baku.

Dalam proses produksi Perusahaan Syrup menggunakan bahan baku dan peralatan sebagai berikut:
1) Gula pasir yaitu merupakan bahan baku utama dalam pembuatan Syrup. Mutu
dari Syrup dipengaruhi oleh kualitas dari gula pasir yang digunakan.
2) Air, air ini diperhatikan keseimbangan PH-nya dan kejernihan dari pada air itu
sendiri.
3) Flavour, merupakan bahan penolong untuk memberikan aroma tertentu pada
Syrup sesuai dengan produk yang diinginkan.
4) Pewarna, merupakan bahan pembantu untuk memberikan warna yang lebih
cerah sesuai dengan warna flavor.
5) Asam Benzoat, merupakan bahan untuk memperpanjang masa simpan
(pengawet) Syrup yang diproduksi,sering digunakan dalam bentuk garam yang
disebut Natrium Benzoat.
6) Asam Sitrat, merupakan bahan pembantu untuk mendapatkan rasa syrup.
Fungsi asam sitrat ini untuk mencegah perubahan warna yang ada pada syrup.
7) Pemanis buatan, untuk memberikan rasa yang lebih manis lagi sehingga
bahan ini dapat menjadi alternatif mengurangi gula.
8) Pengental, zat pengental yang digunakan untuk pembuatan syrup adalah
CMC (Carboxymethil Cellulose). Fungsi ini untuk menstabilkan, memekatkan dan
mengentalkan makanan atau minuman yang dicampur dengan air.

Sedangkan peralatan yang digunakan adalah:
1) Tungku
2) Wajan atau kuali
3) Bak pencucian botol
4) Mesin mixer untuk mengaduk bahan.
5) Mesin pemasang botol.

c. Tenaga kerja
Tenaga kerja adalah penduduk yang berusia antara 15 – 54 tahun, yaitu mereka
yang diperkirakan masih memiliki kemampuan melakukan kegiatan ekonomi
(Amien, 1986:31). Tenaga kerja adalah setiap orang laki/ wanita yang sedang dalam dan / atau akan melakukan pekerjaan, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi keutuhan masyarakat ( UU Ketenagakerjaan No. 25 Tahun 1997).

Menurut Sunarto ( 1989: 4 ) batasan mengenai tenaga kerja meliputi penduduk
yang berumur 14 tahun kecuali :
1) Anak-anak berusia dibawah 14 tahun.
2) Mereka yang berusia tinggi ( usia lanjut ), cacat jasmani dan rokhani sehingga
tidak mampu untuk melakukan pekerjaan.
3) Mereka yang berusia 14 tahun tetapi masih sekolah untuk waktu penuh.
4) Mereka yang karena suatu hal tidak diperkenankan melakukan pekerjaan seperti pidana dan tahanan politik.

Menurut UU No.14 tahun 1969 pasal 1 tentang ketentuan-ketentuan pokok
mengenai tenaga kerja adalah tiap-tiap orang yang mampu melakukan pekerjaan
(di dalam atau di luar) hubungan kerja, guna menghasilkan barang atau jasa
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat (Sunarto,1989:3-4 ). Dalam UU tersebut
juga dijelaskan tentang pengertian buruh, yaitu para pekerja yang bekerja pada
perusahaan serta harus tunduk pada perintah dan peraturan yang diadakan oleh
perusahaan atau majikan yang bertanggung jawab atas lingkungan
perusahaannya,dimana tenaga kerja itu akan memperoleh upah dan jaminan
hidup lainnya yang wajar (Sunindhia,1987:15-16).

Untuk mendapatkan tenaga kerja yang terbaik dapat ditempuh dengan dua cara, yaitu:
1) Cara formal atau resmi, dapat dilakukan melalui bantuan kantor penempatan
tenaga kerja yang ada didaerah-daerah lembaga pendidikan atau bursa kerja.
2) Cara non formal/tidak resmi, dapat dilakukan melalui perantara pegawai yang
sudah ada, rekan-rekan atau melalui iklan (Singgih,1990:40 ).
Tenaga kerja merupakan tenaga penggerak dalam proses kegiatan produksi,
karena tanpa keberadaannya maka proses produksi tidak akan berlangsung.
Faktor tenaga kerja ini menyangkut dua segi, yaitu kuantitatif (banyaknya tenaga
kerja) dan kualitatif (ketrampilan yang dimiliki). (Daldjoeni,1992:59).

Secara kualitatif, tenaga kerja dapat dibedakan menjadi:
1) Tenaga kerja terdidik, yakni tenaga kerja yang memerlukan pendidikan
Dalam industri syrup ini tenaga kerja tersebut adalah bagian staf direksi dan
karyawan dalam bagian-bagian tertentu yang memerlukan pendidikan terlebih
dahulu.
2) Tenaga kerja terlatih, yakni tenaga kerja yang memerlukan latihan-latihan
terlebih dahulu, dalam industri syrup ini tenaga terlatih seperti: bagian pencucian,
bagian mesin, bagian pemasangan logo, dan lainnya yang memerlukan latihan.
3) Tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih, dalam hal ini seperti pelayan,
pesuruh dan sebagainya (Haryonoto,1995:17).
Untuk dapat memilih tenaga kerja yang baik diperlukan persyaratan tertentu,
meliputi:
1) Keahlian,mencakup pendidikan dan pengalaman
2) Umur
3) Jenis kelamin
4) Kondisi fisik dan kesehatan.
5) Kejujuran dan kondisi mental (Singgih,1980:39).

Adapun sistem upah yang diberikan atau yang digunakan oleh pengusaha, yaitu:
(1) upah menurut waktu, yakni cara penetapan upah, dimana waktu kerja buruh
merupakan ukuran untuk menetapkan besarnya upah. Jadi tidak tergantung dari
banyaknya prestasi kerja yang telah dihasilkan oleh buruh selama waktu kerja.
(2) upah menurut prestasi, yaitu penetapan upah, dimana hasil prestasi kerja
dari buruh merupakan ukuran untuk menetapkan besarnya upah. Jadi tidak
tergantung dari lamanya kerja. Salah satu sistem upah menurut prestasi dalam
industri syrup Kartika Polaswasti Mahardhika yaitu bagian pencucian botol dalam
waktu satu hari, semakin banyak botol yang dapat dicuci semakin besar upah
yang akan diterimanya (Adikoesumah,1982:59).
Upah atau pendapatan bagi buruh biasanya dibedakan berdasarkan atas
ketrampilan yang dimilikinya, secara umum dapat dibedakan bahwa buruh tanpa
ketrampilan mendapat imbalan lebih rendah dibanding buruh yang memiliki
ketrampilan (Susanto,1985:188).

d. Pemasaran
Menurut W.J. Stantion dalam Swastha (1985 : 5) pemasaran adalah suatu
sistem keseluruhan dari kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan.
menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang
memuaskan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli yang potensial.
Pemasaran menurut Basu Swastha (1970) adalah tindakan-tindakan yang
diperlukan untuk menyampaikan barang produksi dari tangan produsen ke
tangan konsumen, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pemasaran merupakan salah satu hal yang pokok dalam suatu usaha, karena
tanpa adanya pemasaran barang yang dihasilkan tersebut tidak akan dapat
terjual dan diketahui secara umum (dalam hal ini adalah konsumen). Jadi
pemasaran bertujuan mendistribusikan atau menyampaikan barang kepada
konsumen Kegiatan memasarkan produk, perusahaan tidak dapat terlepas
dengan saluran distribusi yang digunakan, dengan pemilihan dan penetapan
saluran distribusi yang tepat perusahaan akan dapat mencapai tingkat efisiensi
dan efektifitas pemasaran produk sehingga akan dapat mencapai keuntungan maksimal.
Saluran distribusi adalah saluran yang digunakan oleh produsen untuk
menyalurkan barang dari tangan produsen ke tangan konsuman/pemakai industri
(Basu Swastha,1997:190). Saluran distribusi melalui manajemen pemasaran yaitu proses perencanaan pelaksanaan dari perwujudan pemberian harga,promosi dan distribusi dari barang-barang atau jasa dan gagasan untuk menciptakan pertukaran dengan kelompak sasaran yang memenuhi tujuan pelanggan dan orginisasi (Kothler, 1995:16 ).
Pemasaran terdapat biaya distribusi, yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan oleh
perusahaan untuk memasarkan barang atau menyampaikan barang ke pasar,
meliputi biaya tenaga kerja, biaya angkut, biaya perjalanan, biaya telepon, pajak,
biaya administrasi dan promosi, dan lain-lain. Peranan pemasaran sangatlah
penting bagi suatu industri, dan mempunyai arti peranan yang cukup banyak bagi perusahaan, sehingga hasil produksi dapat diterima masyarakat dan perusahaan akan mendapat keuntungan besar.
Untuk mengetahui kemajuan perusahaan dalam periode tertentu, dapat diketahui melalui volume penjualan/hasil penjualan merupakan banyaknya jumlah barang/produk yang berhasil dijual dalam periode waktu tertentu.
Dengan mengetahui tingkat penjualan diharapkan perusahaan mampu menganalisa dan
meramalkan keuntungan dan tingkat penjualan pada tahun-tahun yang akan
datang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share